colourful


live... love... laugh...

LIVE like it's the greatest gift ever! LOVE yourself like a fat kid loves cake! LAUGH like you have never laughed before
sama 

Sabtu, 20 Agustus 2011

MEDIA KORSEL UNGKAP KAPSUL MANUSIA DI PASAR GELAP RRT

Beberapa tahun lalu, hidangan ”Sup Bayi” dari sebuah rumah makan di Guangdong-RRT, yang terungkap oleh media. (INTERNET)
Beberapa media besar Korea beramai-ramai mengungkap pasar gelap setempat bekerjasama dengan RS di daratan RRT, menggunakan pabrik ilegal untuk memproduksi “kapsul daging manusia” yang diolah dari mayat bayi, dan dijual di Korea Selatan dengan harga 100 kapsul 800 ribu Won (sekitar $ AS 748 atau Rp 6,4 juta).

Konon, sejak pemerintah PKT melaksanakan program “Kelahiran Berencana”, mayat bayi dari pengguguran paksa itu dijadikan bahan produk “kapsul daging manusia” tersebut, bahkan telah dihidangkan di rumah makan, di RRT hal tersebut sudah merupakan rahasia umum.

Dikeringkan, Dihaluskan, Dimasukkan Kapsul

Semenjak “kapsul daging manusia” produk RRT terbongkar oleh bea cukai Korsel, TV SBS di Korsel khusus mengirim reporter ke RRT, secara diam-diam melakukan wawancara dan hasil penyelidikan tersebut disiarkan dalam progam acara Yang Ingin Anda Ketahui pada 6 Agustus lalu, dengan judul “Peristiwa Mengejutkan: Menyingkap Fakta Kapsul Daging Manusia”.

TV SBS melaporkan, di RRT mereka menjumpai seorang pedagang yang memberitahu alamat transaksi perdagangan mayat bayi, reporter segera menelusurinya dan menemukan sebuah rumah sakit yang menjual mayat bayi serta ari-ari manusia, terekamlah dalam kamera seorang makelar pasar gelap buru-buru melakukan “jual-beli” dengan pihak rumah sakit. Selanjutnya reporter menemukan lokasi pabrik ilegal yang memproses “kapsul daging manusia”, dan seluruh proses produksi terekam pula.

TV SBS menyampaikan, grup reporter dengan mata kepala sendiri menyaksikan seluruh proses pembuatan kapsul, dimulai dari pengambilan mayat orok dalam lemari es yang biasa dipakai di rumah, kemudian dimasukkan dan dikeringkan ke dalam microwave, selanjutnya dihancurkan dengan alat buatan sendiri, terakhir dimasukkan ke dalam kapsul.

Beredar di Korsel kejutkan Netter

Menurut laporan lainnya, seorang penduduk RRT etnis Korea yang berdagang ilegal kapsul tersebut mengatakan, kapsul setelah dikirim dari kota perbatasan Yanbian ke pedagang obat di Korsel, kemudian dipasarkan dengan nama “kapsul bayi” atau “bubuk bayi”.


Menurut hasil analisa laboratorium dari Akademi Penelitian dan Studi Ilmiah Korsel, DNA dan Gen dari bubuk kapsul tersebut, 99.7% serupa dengan jaringan tubuh manusia, lagi pula di dalam bubuk kapsul bisa dikenali potongan bulu, rambut dan kuku bayi.

Menurut analisa, mayat bayi untuk produksi kapsul tersebut sebagian besar berasal dari bayi pengguguran paksa yang dilakukan pemerintah RRT sejak dilaksanakan program “Kelahiran berencana”, dan pengguguran paksa sudah menjadi fenomena umum di RRT. Netter Korsel dalam hal ini menyerukan, “Jangan melakukan pengguguran lagi! Pengguguran adalah tindakan membunuh manusia. RRT adalah negara yang tidak menghargai HAM.”

Konon, khasiat “kapsul daging manusia” semacam ini adalah sebagai obat kuat dan mengatasi penyakit impoten. Menurut pendapat kalangan kedokteran Korsel, hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip ilmiah, apalagi jika mayat bayi mengidap penyakit keturunan atau sakit, menelan kapsul semacam ini mungkin malah menimbulkan penyakit yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dobrak Pucuk Gunung Es “Kanibalisme” di RRT

Tersingkapnya “kapsul daging manusia” tersebut, sebetulnya hanya secuil dari puncak gunung es dalam peristiwa “manusia makan manusia” yang banyak terjadi di RRT. Baru beberapa tahun silam, terungkap oleh media “sup bayi” yang dihidangkan di rumah makan besar berbagai daerah di Provinsi Gungdong, RRT. Konon sebagian besar bayi yang dikonsumsi tersebut, juga didapat dari bayi pengguguran paksa atas pelaksanaan program “Kelahiran berencana” oleh pemerintah PKT. Justru program pengguguran paksa PKT ini telah mendorong terjadinya kemerosotan moral rakyatnya yang melahirkan “golongan manusia kanibal” di RRT .

Lima tahun lalu, beberapa media menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Bao Guang mengungkap latar belakang yang dilengkapi foto, penjualan “Sup Bayi” di Kota Fosan, provinsi Guangdong, RRT. Dilaporkan seorang juru masak Li di sebuah rumah makan besar menanyakan kepada reporter, “Anda benar mau mencicipi itu (sup bayi)? Nanti ada suami-istri pekerja dari luar daerah, sekarang telah hamil 8 bulan lebih, karena dua anak sebelumnya perempuan semua, maka beberapa hari lagi mereka akan menggunakan garam mempercepat kelahirannya, jika nanti ternyata anak perempuan lagi, waktu itu Anda bisa menikmati hidangan itu.”

Menurut artikel itu, semangkok “sup bayi” berharga 3.500 Yuan (sekitar 5 juta rupiah). “Ada seseorang memberitahu reporter, mayat bayi dari hasil abortus atau pengguguran, sang ibu hamil itu akan diberi beberapa ratus yuan, namun jika menjelang kelahiran cukup bulan, keguguran tersebut akan diberi 2.000 yuan kepada sang ibu, dianggap akan diadopsi dan orang tua bayi merasa sangat berterima kasih, akan tetapi siapa tahu darah dagingnya itu segera akan dilahap orang!”

Di bagian terakhir artikel mencuplik perkataan reporter sebagai berikut: “Ini adalah malapetaka dari program satu anak pemerintah PKT, kekuasaan yang jahat dan sifat manusia yang bobrok, telah mencapai taraf kondisi patut menerima kutukan langit!” (Wen Long / The Epoch Times / tys)


CERITA BIJAK DARI NEGERI BAMBU: KISAH URAT NADI NAGA



                                                      

CERITA BIJAK DARI NEGERI BAMBU: KISAH URAT NADI NAGA


Pada jaman Tiongkok kuno, hiduplah seorang master Feng Shui[1] (hongshui) yang sangat piawai namun berhati jahat, dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencari “urat nadi naga”[2] yang legendaris seperti yang disebutkan dalam buku-buku kuno.
Suatu hari ia melakukan sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang terpencil. Setelah menaiki satu bukit ke bukit yang lain, dibawah terik matahari dan sulit mendapatkan air, ia benar-benar kecapekan dan kehausan.
Akhirnya ia dari kejauhan melihat sebuah bangunan yang hampir roboh dikelilingi tembok, dengan bergegas ia berlari ke bangunan tersebut dan mengetuk pintunya.
Setelah menunggu agak lama, seorang wanita tua membuka pintu. Langsung ia memohon sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya karena tersengat matahari sepanjang hari, ”Nenek, bolehkah saya minta seteguk air untuk minum?” Wanita tua itu melihat wajah master Feng Shui yang penuh semangat, dan nadi leher yang tenggelam oleh panas matahari. “Tunggulah”, katanya, lalu ia membalikkan badannya, pergi perlahan meninggalkan Master Feng Shui itu tanpa mempersilahkan masuk.
Setengah hari telah berlalu, baru saja si Master Feng Shui itu telah hilang kesabarannya, wanita tua itu kembali dengan membawa semangkok air ditangannya. Segera saja Master Feng Shui itu meraih mangkok dari tangan nenek tua itu dan seketika hendak meneguk habis air dalam mangkok itu, namun ia menemukan beberapa sekam mengapung diatas air. Ia menjadi sangat marah, namun karena ia begitu haus, dengan enggan ia meniup sekam itu ke pinggir mangkok dan meminumnya dengan perlahan.
Ia berpikir: ”Orang tua ini sungguh sangat tidak ramah, dan juga pelit; ia bahkan tak memberiku semangkok air yang bersih. Biarlah, aku akan memberinya pelajaran...” Master Feng Shui memutuskan hatinya dengan bulat, dan berkata pada wanita tua itu:”Nenek, terima kasih airnya, tetapi saya tak punya apapun untuk menggantinya. Saya adalah seorang master Feng Shui, bagaimana kalau saya memilihkan tempat pemakaman yang paling sesuai untuk nenek, sehingga dapat beristirahat dengan tenang bila kelak waktunya telah tiba.”
Wanita itu mengikuti master Feng Shui ke sebuah bukit yang terdekat, dan master itu mengeluarkan penunjuk arah Feng Shui nya. Setelah lama melakukan pengukuran dan pengamatan, akhirnya ia menggambar sebuah tanda silang di tanah dan berkata pada wanita tua itu,”Inilah tempat yang paling menguntungkan, nenek dapat beristirahat disini bila waktumu tiba.” “Bagus”, kata nenek menerima saran Master Feng Shui itu, dan berkata,”Anda sebaiknya lekas-lekas pergi sebentar lagi akan ada badai.”
Sepuluh tahun kemudian, si master Feng Shui itu melewati lagi tempat yang dulu ditunjuknya. Ia teringat wanita tua yang dulu ditemuinya serta tempat pemakaman yang ditunjuknya untuk wanita tua itu. Sebenarnya tempat yang dipilihkan dia merupakan sebuah tempat terlarang dan membawa sial. Dengan kata lain, ketika wanita tua itu dimakamkan disana, keluarga yang ditinggalkannya akan tertimpa malapetaka. Master Feng Shui itu telah sampai dilokasi pemakaman, dengan cepat ia mengenali batu nisan yang berdiri ditempat yang dulu ia pilihkan untuk pemakaman nenek tua itu.
Si Master Feng Shui itu melihat sekeliling dan mendapati bangunan rusak yang dulu dia lihat sudah tidak ada lagi disana, kemudian dia menuruni bukit itu, tempat yang dulu terpencil itu kini telah berubah menjadi sebuah kota kecil yang sibuk. Ia menuruni bukit dan mengetuk pintu rumah yang paling mewah dikota itu. Seorang anak muda membukakan pintu dengan hangat dan mempersilakannya masuk.
Master Feng Shui itu menanyakan bangunan yang telah rusak dan perihal nenek tua yang dulu ditemuinya. Pemuda itu dengan antusias bertanya:”Andakah master Feng Shui itu? Nenek meninggal sesaat anda pergi, dan mengatakan perihal anda sebelum meninggal. Dia bersikeras meminta untuk dikuburkan ditempat yang anda pilihkan, dia bilang karena anda telah memilihkan dengan susah payah.”
Pemuda itu membawakan semangkok air sambil berkata, ”Minumlah air ini dengan pelan-pelan, jangan meminumnya dengan tergesa-gesa, anda baru saja menempuh perjalanan jauh dibawah terik matahari. Itulah yang selalu nenek katakan. Saya berharap anda tidak marah seperti 10 tahun yang lalu ketika ia memberi anda air untuk diminum.
Nenek selalu menaruh beberapa butir sekam kedalam air setiap kali pengembara datang dan meminta air, agar orang tersebut tidak meminumnya dengan tergesa-gesa sehingga tidak membahayakan keselamatannya. Begitu mendengar perkataan ini, si Master Feng Shui ini hampir saja pingsan. Sungguh sangat disayangkan, sudah sangat terlambat untuk memperbaikinya.
Akan tetapi, melihat kehidupan keluarga ini demikian makmur, si Master Feng Shui ini tak habis pikir. Ia berkata pada dirinya sendiri,”Apakah aku telah melakukan kesalahan saat itu? Sungguh tidak mungkin.”
Dengan ditemani si pemuda itu, Master Feng Shui kembali mengunjungi lokasi pemakaman nenek tua itu. Ia mengeluarkan kompas Feng Shui nya, dan dengan cermat diukurnya berulang-ulang. “Mustahil, mustahil”, gumam Master Feng Shui itu yang semakin penasaran. Mungkinkah ini “urat nadi naga” yang telah dia impikan selama bertahun-tahun? Pemuda itu lalu menceritakan peristiwa yang terjadi 10 tahun yang lalu. “Tak lama setelah anda pergi, tempat ini dihajar angin topan, hujan lebat terjadi selama 3 hari tanpa henti. Banjir bandang menghanyutkan semuanya termasuk bangunan yang rusak itu.”
“Ketika banjir telah surut, keluarga kami harus membangunnya mulai dari nol lagi. Seperti yang anda lihat, tempat asli dari bangunan tua itu sekarang telah berubah menjadi rumah yang paling menonjol. 10 tahun yang lalu, hanya ada beberapa rumah disini, sekarang tempat ini telah menjadi sebuah kota kecil yang indah, terimakasih untuk anda ….”
“Lama sebelum nenek saya meninggal, perlu dilakukan sesuatu untuk menemukan kembali lokasi yang telah anda pilihkan untuknya. Nenek bilang, keluarga kami akan menjadi sangat beruntung bila nenek dimakamkan dilokasi ini,” lanjut pemuda itu.
Sebenarnya perhitungan si Master Feng Shui ini sedikit pun tidak meleset, tempat dimana ia menggambar tanda silang benar-benar bukan tempat yang memberi keberuntungan. Akan tetapi, banjir telah merubah topografi disekitar tempat itu, dan merubahnya menjadi “urat nadi naga”.
Sebagaimana terdapat sebuah perkataan,”Yang mendiami tanah penuh berkah adalah dia yang telah diberkahi dan begitu pula sebaliknya. Apa yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya, maka dia akan mendapatkan apa yang patut dia dapatkan. (The Epoch Times/tnm)
Catatan :
[1] Secara harfiah Feng Shui berarti “angin dan air”, dihitung berdasarkan bentuk dan ukuran dari topografi bumi, gunung, lembah dan aliran sungai, serta arah dan ketinggian yang tercipta oleh interaksi timbal balik kedua kekuatan alam ini. Ilmu perhitungan geografi bumi Tiongkok kuno ini telah berkembang menjadi ilmu praktik yang bercampur dengan kepercayaan mistis, astrologi, cerita-cerita rakyat serta pemahaman umum dalam mengatur penempatan dan orientasi ruang untuk mendapatkan keharmonisan dengan lingkungan sekitar.
[2] Urat Nadi Naga – menurut teori Feng Shui, garis energi yang terletak disisi rantai pegunungan disebut sebagai urat nadi naga, dan lokasi yang paling menguntungkan berada di akhir barisan pegunungan itu.



Pada jaman Tiongkok kuno, hiduplah seorang master Feng Shui[1] (hongshui) yang sangat piawai namun berhati jahat, dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencari “urat nadi naga”[2] yang legendaris seperti yang disebutkan dalam buku-buku kuno.


Suatu hari ia melakukan sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang terpencil. Setelah menaiki satu bukit ke bukit yang lain, dibawah terik matahari dan sulit mendapatkan air, ia benar-benar kecapekan dan kehausan.


Akhirnya ia dari kejauhan melihat sebuah bangunan yang hampir roboh dikelilingi tembok, dengan bergegas ia berlari ke bangunan tersebut dan mengetuk pintunya.


Setelah menunggu agak lama, seorang wanita tua membuka pintu. Langsung ia memohon sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya karena tersengat matahari sepanjang hari, ”Nenek, bolehkah saya minta seteguk air untuk minum?” Wanita tua itu melihat wajah master Feng Shui yang penuh semangat, dan nadi leher yang tenggelam oleh panas matahari. “Tunggulah”, katanya, lalu ia membalikkan badannya, pergi perlahan meninggalkan Master Feng Shui itu tanpa mempersilahkan masuk.


Setengah hari telah berlalu, baru saja si Master Feng Shui itu telah hilang kesabarannya, wanita tua itu kembali dengan membawa semangkok air ditangannya. Segera saja Master Feng Shui itu meraih mangkok dari tangan nenek tua itu dan seketika hendak meneguk habis air dalam mangkok itu, namun ia menemukan beberapa sekam mengapung diatas air. Ia menjadi sangat marah, namun karena ia begitu haus, dengan enggan ia meniup sekam itu ke pinggir mangkok dan meminumnya dengan perlahan.


Ia berpikir: ”Orang tua ini sungguh sangat tidak ramah, dan juga pelit; ia bahkan tak memberiku semangkok air yang bersih. Biarlah, aku akan memberinya pelajaran...” Master Feng Shui memutuskan hatinya dengan bulat, dan berkata pada wanita tua itu:”Nenek, terima kasih airnya, tetapi saya tak punya apapun untuk menggantinya. Saya adalah seorang master Feng Shui, bagaimana kalau saya memilihkan tempat pemakaman yang paling sesuai untuk nenek, sehingga dapat beristirahat dengan tenang bila kelak waktunya telah tiba.”


Wanita itu mengikuti master Feng Shui ke sebuah bukit yang terdekat, dan master itu mengeluarkan penunjuk arah Feng Shui nya. Setelah lama melakukan pengukuran dan pengamatan, akhirnya ia menggambar sebuah tanda silang di tanah dan berkata pada wanita tua itu,”Inilah tempat yang paling menguntungkan, nenek dapat beristirahat disini bila waktumu tiba.” “Bagus”, kata nenek menerima saran Master Feng Shui itu, dan berkata,”Anda sebaiknya lekas-lekas pergi sebentar lagi akan ada badai.”


Sepuluh tahun kemudian, si master Feng Shui itu melewati lagi tempat yang dulu ditunjuknya. Ia teringat wanita tua yang dulu ditemuinya serta tempat pemakaman yang ditunjuknya untuk wanita tua itu. Sebenarnya tempat yang dipilihkan dia merupakan sebuah tempat terlarang dan membawa sial. Dengan kata lain, ketika wanita tua itu dimakamkan disana, keluarga yang ditinggalkannya akan tertimpa malapetaka. Master Feng Shui itu telah sampai dilokasi pemakaman, dengan cepat ia mengenali batu nisan yang berdiri ditempat yang dulu ia pilihkan untuk pemakaman nenek tua itu.


Si Master Feng Shui itu melihat sekeliling dan mendapati bangunan rusak yang dulu dia lihat sudah tidak ada lagi disana, kemudian dia menuruni bukit itu, tempat yang dulu terpencil itu kini telah berubah menjadi sebuah kota kecil yang sibuk. Ia menuruni bukit dan mengetuk pintu rumah yang paling mewah dikota itu. Seorang anak muda membukakan pintu dengan hangat dan mempersilakannya masuk.


Master Feng Shui itu menanyakan bangunan yang telah rusak dan perihal nenek tua yang dulu ditemuinya. Pemuda itu dengan antusias bertanya:”Andakah master Feng Shui itu? Nenek meninggal sesaat anda pergi, dan mengatakan perihal anda sebelum meninggal. Dia bersikeras meminta untuk dikuburkan ditempat yang anda pilihkan, dia bilang karena anda telah memilihkan dengan susah payah.”


Pemuda itu membawakan semangkok air sambil berkata, ”Minumlah air ini dengan pelan-pelan, jangan meminumnya dengan tergesa-gesa, anda baru saja menempuh perjalanan jauh dibawah terik matahari. Itulah yang selalu nenek katakan. Saya berharap anda tidak marah seperti 10 tahun yang lalu ketika ia memberi anda air untuk diminum.


Nenek selalu menaruh beberapa butir sekam kedalam air setiap kali pengembara datang dan meminta air, agar orang tersebut tidak meminumnya dengan tergesa-gesa sehingga tidak membahayakan keselamatannya. Begitu mendengar perkataan ini, si Master Feng Shui ini hampir saja pingsan. Sungguh sangat disayangkan, sudah sangat terlambat untuk memperbaikinya.


Akan tetapi, melihat kehidupan keluarga ini demikian makmur, si Master Feng Shui ini tak habis pikir. Ia berkata pada dirinya sendiri,”Apakah aku telah melakukan kesalahan saat itu? Sungguh tidak mungkin.”


Dengan ditemani si pemuda itu, Master Feng Shui kembali mengunjungi lokasi pemakaman nenek tua itu. Ia mengeluarkan kompas Feng Shui nya, dan dengan cermat diukurnya berulang-ulang. “Mustahil, mustahil”, gumam Master Feng Shui itu yang semakin penasaran. Mungkinkah ini “urat nadi naga” yang telah dia impikan selama bertahun-tahun? Pemuda itu lalu menceritakan peristiwa yang terjadi 10 tahun yang lalu. “Tak lama setelah anda pergi, tempat ini dihajar angin topan, hujan lebat terjadi selama 3 hari tanpa henti. Banjir bandang menghanyutkan semuanya termasuk bangunan yang rusak itu.”


“Ketika banjir telah surut, keluarga kami harus membangunnya mulai dari nol lagi. Seperti yang anda lihat, tempat asli dari bangunan tua itu sekarang telah berubah menjadi rumah yang paling menonjol. 10 tahun yang lalu, hanya ada beberapa rumah disini, sekarang tempat ini telah menjadi sebuah kota kecil yang indah, terimakasih untuk anda ….”


“Lama sebelum nenek saya meninggal, perlu dilakukan sesuatu untuk menemukan kembali lokasi yang telah anda pilihkan untuknya. Nenek bilang, keluarga kami akan menjadi sangat beruntung bila nenek dimakamkan dilokasi ini,” lanjut pemuda itu.


Sebenarnya perhitungan si Master Feng Shui ini sedikit pun tidak meleset, tempat dimana ia menggambar tanda silang benar-benar bukan tempat yang memberi keberuntungan. Akan tetapi, banjir telah merubah topografi disekitar tempat itu, dan merubahnya menjadi “urat nadi naga”.


Sebagaimana terdapat sebuah perkataan,”Yang mendiami tanah penuh berkah adalah dia yang telah diberkahi dan begitu pula sebaliknya. Apa yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya, maka dia akan mendapatkan apa yang patut dia dapatkan.


Catatan :
[1] Secara harfiah Feng Shui berarti “angin dan air”, dihitung berdasarkan bentuk dan ukuran dari topografi bumi, gunung, lembah dan aliran sungai, serta arah dan ketinggian yang tercipta oleh interaksi timbal balik kedua kekuatan alam ini. Ilmu perhitungan geografi bumi Tiongkok kuno ini telah berkembang menjadi ilmu praktik yang bercampur dengan kepercayaan mistis, astrologi, cerita-cerita rakyat serta pemahaman umum dalam mengatur penempatan dan orientasi ruang untuk mendapatkan keharmonisan dengan lingkungan sekitar.
[2] Urat Nadi Naga – menurut teori Feng Shui, garis energi yang terletak disisi rantai pegunungan disebut sebagai urat nadi naga, dan lokasi yang paling menguntungkan berada di akhir barisan pegunungan itu.

lingkaran waktu yang tiada berujung

waktu


Betapa hebatnya waktu mengatur kita. Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas. Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu. Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata.
Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang,semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak tidur semalam. Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita.

Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, emosi, dan perasaan kita. Karena waktu adalah lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu untuk mengatur kehidupan.
Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan. Dan, semua itu kita rangkai dalam jalinan waktu. Maka, hanya mereka yang tak kenal akan waktulah yang terjerat dalam persoalan tiada berujung.

Cobalah UNtuk Merenung




Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening. Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.
Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening.

cara alam menghibur kita




Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar hari. Sebalkah anda?
Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda?
Mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?
Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita sendiri, dan bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, meski secara kecut, tak apalah :)
Submitted by Satriyo H. Wibisono

im worried

                  




i'm sorry... i'm just worried about tomorrow...

Ketika kita khawatir tentang hari esok, kita menarik mendung hari esok dan menutupi sinar matahari hari ini
 janganlah khawatir tentang hari besok. Sebab besok ada lagi khawatirnya sendiri. Hari ini sudah cukup kesusahannya, tidak usah ditambah lagi

Jumat, 19 Agustus 2011

cinta

 
 
 
Janganlah berharap untuk mendapatkan sesuatu
dari cinta dan yang kaucintai.

Karena,

...
Cinta bukanlah untuk mengharapkan pemberian.
Cinta adalah tentang keanggunan hati untuk memberi.

Hanya orang yang hatinya menemukan kebahagiaan dalam memberi,
yang berbakat ditemukan oleh cinta yang lembut, jujur, dan setia.

Orang yang hatinya hanya tamak mengharapkan hadiah dari cinta,
akan dihindari oleh cinta, kecuali oleh penipu yang memalsukan cinta.

Memberi adalah hakikat cinta.

Mario Teguh