colourful


live... love... laugh...

LIVE like it's the greatest gift ever! LOVE yourself like a fat kid loves cake! LAUGH like you have never laughed before
sama 

Kamis, 23 Juni 2011

jagalh lidahmu

Setiap hari kita tak lepas dari bertemu manusia, memang manusia adalah makhluk sosial yang sudah tentu tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam kondisi ini media silaturrahmi yang paling sering digunakan adalah lisan atau dalam bahasa kita adalah lidah. Dengan lisan inilah kita berkata-kata menyampaikan apa yang berada dibenak ataupun di alam pikiran kita kepada orang yang menjadi lawan bicara kita. Ketika apa yang kita ucapkan salah maka tentu membuat orang tersebut tersinggung sebaliknya apabila apa yang kita ucapkan enak untuk didengar maka susana silaturrahim yang tercipta tentu akan semakin akrab. Jadi begitu besarnya peran lidah ini dalam membina suasana silahturahmi dalam kehidupan kita.
Selain itu banyak hal yang baik dapat dilakukan dengan media ini seperti memberikan nasihat, menyampaikan ilmu pengetahuan, membaca Al-Qur’an, dzikir hingga menjaga lidah agar berkata-kata yang baik dianggap sebagai suatu keselamatan sebagaimana sabda Rasulullah ketika ‘Uqbah bin ‘amir tentang keselamatan Rasulullah menjawab keselamatan itu adalah kamu menjaga lidahmu. Sebaliknya dengan lidah ini pula banyak hal-hal jelek dilakukannya seperti memfitnah, menggibah, berdusta. Dalam sebuah ungkapan pujangga ”keselamatan seorang itu dalam menjaga lidahnya”. Jadi perlu perhatian khusus dalam menjaga karunia Allah yang satu ini agar apa yang keluar darinya menjadi lebih bermanfa’at bagi dirinya sendiri ataupun orang disekitarnya. Rasulullah bersabda : “Hendaklah seseorang itu berkata yang baik-baik atau diam” ( Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini menerangkan bagaimana peran lisan ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita hingga Rasulullah menyuruh kita berkata yang baik-baik dan jikalau kita tidak mampu hendaklah diam.
Di dalam Alqur’an ada bentuk-bentuk qawl (bertutur) yang digunakan al-qur’an dalam mengatur lidah kita dalam berbicara kepada sesama :
  1. Qawalum Ma’ruf (Berkata-kata yang baik)
Allah berfirman dalam al-qur’an surat al-Baqarah ayat 263 : “Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasan si penerima). Ayat ini merupakan anjuran untuk menuturkan kata-kata yang baik dalam melaksanakan kebajikan. Dan digambarkan dalam ayat ini bershodakah merupakan perbuatan kebajikan namun menjadi batal karena dinodai oleh kata-kata yang tidak baik. Di ayat lainpula Allah memerintahkan agar berkata yang baik seperti dalam surat Muhammad ayat 21 :“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka)”
  1. Qawlan Sadida (berkata-kata yang benar)
Hal ini diungkapkan Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 9 : “Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Dari ayat ini dapat dimengerti bahwa berkata yang benar adalah bagian dari bertakwa. Jadi sebaliknya orang yang tidak berkata benar sama seperti orang-orang fasik yang digambarkan dalam surat Al-’Araf ayat 162 : “Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka. Maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka”.
  1. Qawlan Baligha (Perkataan yang membekas dihati)
Kata ini ditegaskan Allah dalam Surat An-Nisa ayat 63 : “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka”.
Al-qur’an menerangkan ketika Nabi Muhammad saw menghadapi orang munafiq hendaklah berkata kepada mereka dengan perkataan yang singkat dan jelas. Bentuk komunikasi yang digunakan ketika menghadapi orang yang munafik adalah bukan dengan meninggalkannya tanpa meninggalkan sepatah kata pun tetapi tetap menghadapinya dan berkata dengan singkat dan jelas.
  1. Qawlan Karima (Perkataan yang mulia)
Perkataan yang mulia ini di gambarkan Allah ketika kita seorang anak berbicara dengan kedua orang tua. Seperti dalam surat al-Isra ayat 23 : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Dalam ayat ini nampak tergambar dengan jelas bagaimana menghadapi orang yang sudah tua ; pikun terlepas itu orang tua kita sendiri secara khusus maupun orang lain hendaklah berkata-kata yang karima, karima disini dapat diartikan mulia atau lemah lembut. Sahabat nabi Ibnu Bajjah at-tujaibi pernah bertanya kepada Sa’id ibnu musayyaf tentang makna qawlan karima, Ibnu Musyyab menjawab bahwa yang dimaksud dengan qawaln karima adalah perkataan yang digunakan seorang hamba sahaya (budak) kepada tuannya yang mempunyai perangai sangat kasar. Jadi ungkapan yang paling halus dari seorang budak kepada tuanya tersebutlah yang dimaksud dengan qawlan karima.
  1. Qawalan maysura (uacapan yang pantas)
Etika ketika menghadapi beberapa tipologi orang seperti orang miskin, keluarga yang kurang mampu, orang yang dalam perjalanan kehabisan bekal sedang kitapun pada kondisi ketika itu tidak dapat membantu mereka, maka al-qur’an mengajarkan pada kondisi seperti ini hendaklah mengucapkan kata-kata yang pantas agar tidak menyinggung perasaan mereka. Seperti dalam surat al-Isra’ ayat 28 : “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.
Ungkapan-ungkapan kata diatas merupakan pelajaran yang dilukisakan al-qur’an ketika bekita berbicara terhadap sesama manusia apakah dia orang baik ataupun tidak, hendaklah tetap diladeni agar terciptanya suatu komunikasi yang sehat. Dari apa yang sudah digambarkan ayat tersebut orang yang menjadi lawan bicara tidaklah menjadi halangan kita untuk berkomunikasi dengan pola-pola yang secara umum sudah digambarkan al-qur’an dalam ayat tersebut.
Nampaknya lidah bukanlah hal yang sederhana dan sepele yang dapat kita lupakan tanpa ada usaha untuk mengontrolnya dan lepas dari rel-rel yang sudah digariskan Allah swt. Di antara sifat orang-orang yang mendapat kemuliaan dari Allah adalah orang yang menjaga lidahnya bahkan ketika bertemu orang jahil sekalipun hendaknya tetaplah berkata baik. Seperti dalam surat al-furqan ayat 63 :“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-lata yang baik”. Dalam Tafsir ibnu Katsir dijelaskan sekalipun orang jahil tersebut berdusta dengan kata-kata yang kasar kepada kita maka hendaklah seorang mema’afkannya dan bersalam kepada mereka dan janganlah kita membalas dengan apa yang mereka katakan.
Akhiran, merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia untuk mensyukuri karunia Allah yang satu ini mengingat betapa banyak dan berperannnya dalam mewarnai kehidupan ini. Kita berharap semoga karuani yang diberi kepada kita berupa lidah dapat kita jaga agar selalu ber-kata yang benar dan membawa man’afat yang lebih baik. Semoga kita tidak di golongkan orang yang selalu dilaknat allah karena menggunakan lidah kita untuk berbohong “laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (Ali Iimran ayat 61 ).





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar